11 January 2022
chanafi@trustmedis.co.id

31 Januari 2019 adalah tanggal dimana organisasi kesehatan dunia, atau yang dikenal dengan World Health Organization (WHO), dikabarkan tentang kasus Pneumonia misterius di kota Wuhan, China. Setelah itu, pada tanggal 7 Januari 2020, otoritas di China mengidentifikasi bahwa virus korona merupakan penyebab dari wabah ini. Itu sebabnya, penyakit Pneumonia yang misterius ini dinamakan, “2019-nCoV.”

 

WHO mencatat ada 98 kasus tanpa kasus kematian di 18 negara di luar negara China.

 

Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur-Jenderal WHO, menyatakan  virus korona sebagai situasi darurat pada 30 Januari 2020. Mengutip dari situs WHO, terjadi perkembangan pesat di bulan Maret 2020. Yang mana, menarik perhatian umum dalam skala internasional. Terhitung lebih dari 118.000 kasus dengan 4291 kasus kematian, terjadi di 114 negara.

Menurut laporan organisasi kesehatan dunia, Eropa menjadi pusat epidemi ada pertengahan Maret 2020. Arti dari “Epidemi” adalah enyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban. Semenjak kasus pertama muncul, WHO telah bekerja setiap waktu untuk membantu mempersiapkan dan menanggapi pandemi COVID-19 bagi setiap negara yang membutuhkan.

Dikarenakan pandemi yang masih berlanjut dan menjangkit, hampir, semua negara, banyak individu memilih untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Fasilitas seperti Fitness Center dan Gym, pada negara-negara tertentu masih ada yang tutup. Ketika seseorang memilih berada di rumah dalam jangka waktu yang tidak tentu, situasi ini dapat menimbulkan kekhawatiran tentang kebugaran. Sebab rendahnya aktivitas fisik saat melakukan karantina mandiri dapat menimbulkan pengaruh negatif untuk kesehatan fisik maupun mental.

 

Bisakah saya berolahraga saat positif COVID-19?

 

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sering terlintas untuk pasien positif COVID-19, khususnya yang menjalani karantina. Jawabannya adalah bergantung pada kondisi kesehatan orang tersebut. Beberapa ahli menyarankan untuk tetap aktif dan memulai berolahraga yang rutin, berikut merupakan alasan-alasan yang diberikan:

  • Berolahraga mempunyai peran dalam proses pemulihan paru-paru, baik, untuk pasien positif maupun sudah sembuh.
  • Menjaga agar lengan dan kaki untuk tetap bergerak dan kuat.
  • Mencegah pembekuan darah

Aktivitas fisik dan Meditasi merupakan pilihan untuk membantu pikiran tetap tenang dan menjaga kebugaran. WHO menyediakan 3 opsi agar tetap bugar, yaitu:

  • Berolahraga yang cukup tetapi intens selama 150 menit.
  • Exercise dengan tempo tinggi dan intens selama 75 menit/minggu. 
  • Atau, dapat mengkombinasi dua pilihan tersebut menjadi satu.

 

Dikutip dari University of Iowa Health Care (UIHC), menyarankan untuk beraktivitas fisik yang ringan dahulu, agar tidak merasakan kecapaian atau sesak napas. UIHC menganjurkan untuk berolahraga bertahap, dari “ringan” hingga ke “sulit.”

Pasien COVID-19 dapat kembali olahraga, apabila:
  • Tidak demam selama 2 hari
  • Tidak merasakan sakit di dada atau sesak napas selama di rumah
  • Kaki tidak bengkak.

 

Jangan melakukan beraktivitas fisik, kalau:
  • Demam di atas 39° Celsius selama 2 hari
  • Denyut nadi tidak dibawah 92% saat menggunakan oxymeter pada saat instirahat
  • Sesak napas
  • Kecepatan bernapas dalam 1 (satu) menit di atas 24 kali
  • Detak Jantung per menit di atas 105 kali
  • Pusing
  • Terjatuh

Disarankan untuk menarik nafas dalam-dalam tetapi secara pelan dari hidung dan dikeluarkan melalui mulut, lakukan selama 1 menit. Baik, warming-up atau cooling down setiap berolahraga. Jika merasa lebih baik dan dapat duduk dalam waktu yang lama, pasied disarankan untuk memulai aktivitas fisik dengan tempo sedang.

Namun, sangat penting untuk pasien COVID-19 untuk tidak memaksakan diri  untuk melakukan gerakan fisik. Dikarenakan, ada kemungkinan, kita tidak merasakan  atau mengindahkan tanda yang diberikan oleh tubuh saat ada yang salah dengan dengan badan kita.

 

Seluruh pertimbangan keputusan melakukan olahraga atau tidak tetap berada di tangan dokter dan masuk ke dalam care plan dalam SOAP pasien. Dokter dapat menuliskan rencana terapi (selain terapi obat) untuk pemulihan pasien pada blanko SOAP.

Apakah Anda sudah tahu bahwa blanko SOAP pasien diperbolehkan untuk ditulis secara elektronik? Lalu, bagaimana caranya?

Pada modul rawat jalan HIS Trustmedis, dokter dapat menuliskan SOAP secara elektronik dan dapat diakses kembali jika pasien berkunjung ke faskes lagi. Dengan demikian, SOAP pasien tersimpan secara aman dan dapat diakses kapan saja sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan terapi ke depannya.

Tertarik untuk mengetahui modul rawat jalan HIS Trustmedis? Klik tombol di bawah ini untuk coba GRATIS aplikasi!⏬⏬⏬

COBA GRATIS HIS Trutmedis

Mau booking tapi mager keluar rumah? Mager antri? Mager ganti baju? Atau gak mau kena macet? Gunakan fitur Booking Online dari TrustMedis, bisa booking dari rumah dimana saja dan kapan saja.

Ikuti social media kami
[DISPLAY_ULTIMATE_SOCIAL_ICONS]

Artikel terbaru

Lihat semua artikel
21 April 2022
5 Tips Sukses Bisnis Klinik Kecantikan di Era Digital
Bisnis Klinik Kecantikan Menjadi Peluang yang Menjanjikan Bisnis di industri kecantikan adalah salah satu bidang yang memiliki peluang usaha yang bagus dari waktu ke waktu. Menilik data dari Badan Pusat Statistika (BPS), bahwa pendapatan industri kecantikan mencapai Rp. 99,33 T pada tahun 2020. Dimana angka tersebut naik 2,29 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini tidak [...]
Read More
31 March 2022
Menilik Potensi Digital Health Bagi Layanan Kesehatan
Mengutip dari “Blueprint For Digital Health Transformation Strategy Indonesia 2024”, permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia adalah: Setidaknya 270 juta data Informasi medis masih tercatat secara manual. Banyaknya penyedia layanan kesehatan yang mengelola data kesehatan. Jutaan resep masih berdasarkan informasi individu yang tertulis di kertas. Banyaknya aplikasi kesehatan yang masih berdasarkan informasi individu. Tenaga kesehatan tidak [...]
Read More
29 March 2022
4 Keuntungan dari Patient-Centered Care
Patient-Centered Care (PCC) berfokus pada pasien dan kebutuhan individual khusus tentang layanan kesehatan, PCC dibutuhkan dan lahir untuk keamanan pasien.   Di Patient-Centered Care, kebutuhan spesifik individu dan hasil yang diinginkan merupakan alasan dibalik keputusan layanan kesehatan dan mengukur kualitas. Tujuan dari Patient-Centered Care adalah untuk mendorong pasien agar lebih aktif saat perawatan.   Namun, [...]
Read More
TRUSTMEDIS
© Copyright 2022 Trustmedis Indonesia
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram