Daftar Isi

Bed Occupancy Rate atau BOR merupakan salah satu indikator penting dalam pengelolaan rumah sakit. Angka BOR rumah sakit menunjukkan persentase pengelolaan tempat tidur rawat inap dalam periode tertentu. Dalam artian, semakin tinggi angka BOR, menunjukkan semakin efisien rumah sakit dalam mengelola operasional dan semakin optimal pula layanan yang diberikan kepada pasien. Sebaliknya, angka BOR yang rendah dapat menjadi tanda bahwa kualitas pelayanan kurang memuaskan, jumlah pasien yang berkunjung menurun, atau terdapat masalah pada pengelolaan operasional.
Daftar Isi
Menurut standar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang mengacu pada DEPKES RI tahun 2005, nilai BOR ideal berada di kisaran 60-85%. Kemenkes juga menegaskan bahwa rumah sakit dengan BOR kurang dari 60% berisiko mengalami defisit anggaran. Sementara itu, standar internasional menetapkan angka BOR ideal berada pada kisaran 75-85%. Maka dari itu, perlu adanya strategi yang tepat dan berkelanjutan untuk menjaga angka BOR tetap pada koridor yang ideal, bahkan meningkat. Berikut adalah ulasan 9 strategi meningkatkan BOR rumah sakit yang paling cocok diterapkan pada era digital saat ini.
Strategi pertama yang harus dilakukan untuk meningkatkan BOR adalah memperbaiki proses pendaftaran dan admisi pasien. Banyak pasien yang urung untuk kembali berobat ke rumah sakit tertentu hanya karena alur pendaftarannya panjang dan lambat, dan lebih parah tidak ada skema antrian yang jelas.
Rumah sakit dapat menggunakan sistem antrian digital dan formulir pendaftaran online. Ketika proses masuk lebih cepat, pasien akan lebih cepat ditangani. Hal ini tidak hanya dapat meningkatkan kepuasan dalam pengalaman pasien, namun juga mempercepat alur pelayanan dan meningkatkan potensi BOR rumah sakit.
Manajemen rawat inap yang tidak efisien sering menjadi penyebab lambatnya proses rawat inap. Rumah sakit perlu memiliki sistem pemantauan kamar rawat inap secara real time, sehingga informasi mengenai kamar kosong, dan kesiapan kamar dapat dipantau kapan saja oleh petugas. Dengan informasi yang akurat, pasien bisa mendapatkan kamar rawat inap lebih cepat.
IGD adalah gerbang masuknya pasien rawat inap. IGD yang padat, dan penilaian medis yang berlangsung lambat dapat menyebabkan pasien yang seharusnya masuk ke ruang rawat inap bisa tertunda. Rumah sakit perlu mereview alur triase, apakah sudah optimal atau belum, menambah jumlah dokter jaga bila dibutuhkan, serta memastikan peralatan yang digunakan selalu dalam keadaan siap.
Kolaborasi antar departemen yang terjalin dengan baik akan membuat alur pasien lancar. Departemen instalasi rawat inap, IGD, poliklinik, dan keuangan harus bekerja sama agar proses pasien dari mulai masuk IGD hingga masuk kamar rawat inap berjalan mulus. Rumah sakit juga perlu melakukan evaluasi mingguan dengan melibatkan seluruh unit tersebut untuk membahas kendala koordinasi antar unit, tingkat okupansi kamar, serta solusi untuk mempercepat Bed Turnover Rate (BTR).
Rumah sakit dapat meningkatkan BOR dengan membuka layanan unggulan berdasarkan tren dan kebutuhan masyarakat. Misalnya layanan fisioterapi, program kehamilan, klinik tumbuh kembang anak, estetika, atau layanan bedah tertentu. Ketika layanan unggulan semakin dikenal, selain menambah jumlah pasien, juga dapat memperbesar peluang rumah sakit untuk menjadi rujukan bagi faskes yang lain.
Pengalaman pasien memiliki pengaruh yang besar dalam keputusan mereka memilih rumah sakit. Selain itu pengalaman yang memuaskan akan membuat pasien merekomendasikan rumah sakit ke orang lain. Lalu apa yang dapat rumah sakit lakukan untuk membuat pasien merasa puas atas layanan yang diberikan? Selain tentunya dokter yang baik dan kompeten, tidak lain tidak bukan adalah staf yang ramah, informasi yang jelas, dan proses yang tidak berbelit.
Untuk mewujudkan semua aspek tersebut, penting bagi rumah sakit melakukan pelatihan secara berkala untuk staf, monitoring kepuasan pasien, serta merawat kebersihan dan fasilitas fisik. Dengan demikian, pasien akan merasa puas dan secara tidak langsung akan meningkatkan BOR rumah sakit.
Di era transformasi digital saat ini, pemanfaatan teknologi dan SIMRS dapat menjadi strategi yang paling berdampak besar dalam meningkatkan BOR. Berikut fitur-fitur unggulan SIMRS yang dapat dimanfaatkan:
Rumah sakit dapat menjalin kerja sama dengan puskesmas, klinik pratama, atau dengan praktik dokter mandiri agar bisa mendapatkan pasien rujukan rawat inap dengan lebih mudah. Selain itu, komunikasi yang baik antar faskes dapat membantu memastikan rujukan yang datang sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas rumah sakit.
Dengan melakukan promosi kepada masyarakat mengenai layanan unggulan maupun fasilitas terbaru, rumah sakit dapat menaikkan brand awareness serta mampu meningkatkan kepercayaan publik. Media yang dapat digunakan untuk promosi antara lain media sosial, website, program edukasi kesehatan, dan lain lain. download ebook sosial media di sini
Berikut 9 strategi yang dapat dilakukan rumah sakit untuk meningkatkan BOR rumah sakit. Dari sembilan strategi yang telah disebutkan, pemanfaatan teknologi, khususnya SIMRS menjadi aspek penting karena memberikan dampak langsung pada akurasi, dan optimalisasi layanan.
Trustmedis menyediakan dashboard yang real time, kemudahan koordinasi antar unit, dan transparansi alur pasien. Keunggulan Trustmedis yang lain adalah sudah terintegrasi dengan BPJS dan Satu Sehat, sehingga sangat memudahkan untuk pelayanan pasien dan proses pelayanan, mulai dari pendaftaran, rujukan, hingga klaim, menjadi jauh lebih cepat dan efisien. Pelajari selengkapnya pada Trustmedis Demo.